“MENGAPA PEKERJAAN HARUS MENJADI PRIORITAS KEEMPAT”

— No.: 05/01/XXVII/2026 | Minggu, 01 Februari 2026 | Bahan: 1 Timotius 5:8

Bekerja adalah suatu keharusan bagi kita semua. Terlebih lagi bagi kita yang berkeluarga, kita dituntut untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan materi keluarga dan itu diperoleh melalui bekerja. Rasul Paulus menulis kepada Timotius, demikian: “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1Timotius 5:8). Surat Paulus ini memperingatkan kepada jemaat bahwa bekerja merupakan tanggung jawab, suatu keharusan, tidak bisa tidak. Tidak bekerja disamakan dengan orang yang murtad dan tidak beriman.

Masalah yang timbul adalah: apakah bekerja itu menjadi prioritas utama dalam hidup manusia? Sebab ada kasus-kasus dimana orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga justru kehilangan hal-hal berharga dalam hidupnya. Dr. Richard C. Halverson, seorang pendeta dan penulis dan menjabat sebagai pendeta senat Amerika pada masa presiden Ronald Reagan, George H. W. Bush dan Bill Clinton, menyampaikan konsep radikal dan revolusioner tentang bagaimana seseorang memprioritas hidupnya. Ia berkata: “Pertama, komitmen Anda kepada Yesus Kristus; kedua, komitmen Anda kepada pasangan hidup Anda; ketiga, komitmen Anda kepada anak-anak Anda; dan keempat, komitmen Anda kepada pekerjaan Anda.” Bagaimana mungkin kita menyelaraskan hal itu, menempatkan pekerjaan di urutan keempat, mengingat betapa pentingnya pekerjaan? Sepertinya pekerjaan malah direndahkan, bukan ditingkatkan. Bukankah semakin bagus/meningkat pekerjaan kita maka semuanya juga akan semakin baik!

Kita mungkin melihat realitas yang terjadi di sekitar kita (atau berita akurat) dimana seseorang yang berorientasi pada karier. Baginya pekerjaan adalah segalanya sehingga urusan spiritual sangat mungkin diabaikan. Istri dan anak-anak selalu dikalahkan dengan urusan pekerjaan. Kalau udah urusan pekerjaan, semuanya harus minggir. Selama sepuluh atau dua puluh lima tahun, ia berpacu kencang dengan profesinya. Ia mencurahkan seluruh energinya untuk meraih kesuksesan. Ia mencapai puncak hanya untuk kemudian menyadari bahwa ia tidak lagi mengenal Tuhan nya, istrinya, atau anak-anaknya. Apakah ini baik?

Satu hal sederhana dan penting yang bisa disampaikan ialah jika kita mengutamakan Tuhan Yesus Kristus, pasangan kita di urutan kedua, anak-anak Anda di urutan berikutnya, dan pekerjaan Anda di urutan keempat, pada akhirnya kita akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar dalam pekerjaan kita. Amin.

Oleh: Pdt. Eddy SS

 

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *