“ORANG TUA YANG SALEH”

— No.: 15/04/XXVII/2026 | Minggu, 12 April 2026 | Bahan: 1 Samuel 1:27-28

Sebuah keluarga yang sempurna itu ibarat fatamorgana; ia tak pernah benar-benar ada di dunia nyata. Di dalam setiap rumah tangga, selalu ada pergumulan, luka, dan keterbatasannya masing-masing. Dan yang terpenting bukan tentang ada atau tidaknya masalah di sebuah keluarga, melainkan bagaimana sebuah keluarga merespons setiap masalah yang ada dengan benar di hadapan Tuhan. Kisah Hana dalam 1 Samuel 1:1–28 membawa kita melihat potret nyata sebuah keluarga yang tidak sempurna, namun melalui kehidupan Hana, kita belajar apa arti menjadi orang tua yang saleh.

Pertama, kita belajar bahwa “ORANG TUA SALEH TIDAK BEBAS DARI MASALAH.” Dalam konteks budaya saat itu, kemandulan adalah aib besar yang mengancam masa depan seorang perempuan. Lebih dari itu, Alkitab mencatat bahwa “TUHAN telah menutup kandungannya” (ayat 5). Ini menunjukkan bahwa penderitaan Hana tidak berada di luar kedaulatan Allah. Dalam iman Kristen, kita percaya bahwa Allah tetap berdaulat bahkan atas hal-hal yang sulit kita mengerti. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak identik dengan kehidupan yang bebas masalah. Justru sering kali, di tengah pergumulan itulah iman kita diuji dan dimurnikan.

Kedua, Hana mengajarkan kepada kita bahwa, “ORANG TUA SALEH MEMBAWA LUKANYA KEPADA TUHAN.” Di tengah penderitaannya, Hana tidak melarikan diri dari Tuhan. Ia datang kepada Tuhan dengan doa yang jujur dan penuh air mata. Inilah sebuah iman yang otentik di hadapan Tuhan. Hana tidak menutupi perasaannya, ia tidak berpura-pura kuat, ia datang apa adanya di hadapan Tuhan. Hal yang menarik adalah perubahan yang terjadi dalam diri Hana. Sebelum keadaannya berubah, hatinya terlebih dahulu diubahkan. Setelah berdoa, ia dapat makan kembali dan wajahnya tidak muram lagi (ayat 18). Ini menunjukkan bahwa damai sejahtera dari Tuhan sering kali hadir bahkan sebelum jawaban doa itu nyata. Kita belajar bahwa orang tua yang saleh bukanlah mereka yang tidak pernah menangis, tetapi mereka yang tahu ke mana harus membawa air mata mereka. Namun bukan hanya membawa semua luka-lukanya pada Tuhan, Hana juga mengajarkan kepada kita bahwa, “ORANG TUA SALEH PERCAYA PADA RENCANA TUHAN.”

Ketika Alkitab mencatat bahwa “TUHAN ingat kepadanya” (ay. 19), itu berarti Tuhan bertindak sesuai dengan rencana dan janji-Nya. Hana akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel. Namun kisah ini tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pribadi Hana. Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih besar. Samuel kelak menjadi nabi yang dipakai Tuhan untuk memimpin Israel pada masa yang krusial—mengurapi raja Saul dan Daud. Ini mengajarkan bahwa Tuhan sering bekerja melalui pergumulan pribadi kita untuk menggenapi rencana-Nya yang lebih besar. Apa yang kita alami hari ini mungkin bukan hanya tentang kita, tetapi bagian dari karya Allah yang lebih luas.

Terakhir, “ORANG TUA SALEH MENYERAHKAN ANAK KEPADA TUHAN.” Setelah menerima jawaban doanya, Hana melakukan sesuatu yang luar biasa: ia menyerahkan Samuel kembali kepada Tuhan. “Tentang anak inilah aku berdoa… maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN” (ayat 27–28). Hana sadar bahwa anak bukan miliknya, melainkan titipan dari Tuhan. Bagi setiap orang tua, ini menjadi pengingat penting, bahwa anak kita bukanlah alat untuk memenuhi ambisi pribadi, tetapi dipercayakan kepada kita untuk dibentuk sesuai kehendak Tuhan. Bahkan bagi kita yang tidak memiliki anak, panggilan ini tetap relevan, sebab kita semua dipanggil untuk menjadi “orang tua rohani” yang membimbing generasi berikutnya dalam iman.

Dari kehidupan Hana, kita belajar bahwa orang tua yang saleh: tidak hidup tanpa masalah. Mereka membawa setiap luka kepada Tuhan, dan percaya pada rencana Tuhan yang lebih besar. Terlebih mereka juga menyerahkan hidup dan anak-anaknya kepada Tuhan. Pada akhirnya, kisah Hana juga menunjuk kepada karya Allah yang lebih besar di dalam Yesus Kristus. Jika Hana menyerahkan anaknya kepada Tuhan, Allah Bapa telah terlebih dahulu menyerahkan Anak-Nya untuk keselamatan kita. Sehingga di dalam Kristus, kita menemukan kekuatan untuk menjalani kehidupan keluarga yang tidak sempurna, tetapi tetap setia kepada Tuhan.

Oleh: Pdm. Nicholas Evan Setiawan

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *