“SAAT AMBISI MANUSIA MENCAKAR SURGA”
by Pdt. Eddy SS
— No.: 39/09/XXVII/2026 | Minggu, 27 September 2026| Bahan: Kejadian 11:1-9 —
Jika diukur dengan hukum Allah, dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Di balik pelanggaran itu, tersembunyilah motif yang sesungguhnya dari dosa: manusia ingin menjadi Tuhan atas dirinya sendiri. Dalam kisah Menara Babel, berjumpalah kita dengan keinginan manusia menjadi Tuhan atas dirinya. Keinginan ini dinyatakan dalam dua cara.
Pertama, umat manusia menolak jalan Allah dan menempuh jalannya sendiri.
Pasca air bah bagaimana manusia menyikapi amanat dan niat baik TUHAN? Bukannya percaya pada niat baik TUHAN dan menaati jalan-Nya, manusia malah menempuh jalannya sendiri. Bukannya memenuhi bumi, mereka malah berangkat ke sebelah timur, ke Tanah Sinear, dan menetap di sana (Kejadian 11:2). Jadi, sayang di sayang, setelah sekian lama, umat manusia memutuskan untuk bermukim di satu tempat; dan alih-alih menyebarluas ke seluruh permukaan bumi untuk membuatya permai ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi, umat manusia memilih untuk membangun suatu kota dengan menara yang puncaknya di langit. Dalam keinginannya menjadi Tuhan bagi diri mereka sendiri (menjadi otonom dan independen dari Allah), umat manusia berpaling dari amanat TUHAN.
Kedua, umat manusia mengejar kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia “memuliakan Allah dan bersukacita menikmati Dia selama-lamanya.” Sesungguhnya, kebahagiaan manusia terletak di dalam hidup yang memuliakan Allah. Akan tetapi, manusia menolak kebahagiaan yang dinikmati dengan memuliakan Allah. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kejadian 11:5). Marilah kita cari nama. Sebuah megaproyek ambisius, mendirikan “sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit.” Tak ada sangkut pautnya dengan Allah. Semua berpusat pada manusia. Manusia ingin memuliakan dirinya sendiri. Suatu pengingkaran terhadap tujuan utama hidupnya.
Dalam kisah Menara Babel kita mendapati bahwa kekacauan bahasa terjadi (Kejadian 11:7, 9), megaproyek terhenti (ayat 8), dan mereka terserak ke seluruh bumi (ayat 4, 8, 9). Bahkan, di sepanjang sejarah, kita dapat menyaksikan bagaimana kekacauan dan keruntuhan terus membayang-bayangi umat manusia.
Namun demikian, betapa indahnya kemurahan hati Allah. Kendati Ia menggagalkan ambisi manusia, melalui kekacauan dan keruntuhan itu Ia tetap memberkati manusia. Amin.
Diringkas dari bahan khotbah bulan perdamaian tahun 2026 Sinode GKMI
Oleh: Pdt. Eddy SS
Recommended Posts
“KARYA PENDAMAIAN ALLAH”
September 16, 2026
“RAHMAT BAGI SEGALA YANG HIDUP”
September 12, 2026
“KETIKA KEJAHATAN MEMENUHI BUMI”
September 05, 2026

