“DILAHIRKAN KEMBALI”

— No.: 40/10/XXVII/2026 | Minggu, 04 Oktober 2026| Bahan: Yohanes 3:3-7; 2 Korintus 5:17 —

Nikodemus adalah pengajar dan pemimpin agama Yahudi. Boleh dikatakan bahwa ia seorang yang baik menurut standar agama. Sudah tentu ia taat pada Taurat. Namun, Yesus berkata kepadanya: “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Dalam tradisi Anabaptis Mennonit, kisah ini sangat penting. Para reformator anabaptis pada abad ke-16 melihat bahwa kekristenan pada zamannya telah menjadi status lahir. Orang dibaptis pada saat bayi. Semua orang menjadi “Kristen” karena lahir di wilayah Kristen tetapi hidupnya tidak mencerminkan Kristus yang seharusnya menjadi teladan orang percaya. Pertanyaan orang Anabaptis selalu tajam: Apakah kelahiran barumu hanya sebuah status rohani atau sebuah jalan pemuridan yang nyata?

Kelahiran baru merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan iman orang Anabaptis. Anabaptis adalah gerakan Kristen dari era reformasi radikal pada abad ke-16 di Eropa yang menolak baptisan bayi dan kemudian mempraktikkan baptisan ulang bagi orang dewasa berdasarkan kesadaran iman pribadi. 21 Januari 1525 menjadi tonggak sejarah reformasi Anabaptis dimana ketika itu sekumpulan anak muda dibaptis ulang atas pemahaman bahwa baptisan haruslah dengan kesadaran bukan oleh status atau paksaan. George Blaurock, Conrad Grebel, Felix Manz adalah nama-nama yang menjadi tokoh dalam baptisan ulang tersebut. Mereka ingin bahwa baptisan bukanlah ritual, lahir baru bukan ritual melainkan penyerahan diri secara total kepada Kristus.

Yesus berkata kepada Nikodemus: “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Dalam tafsir Anabaptis, lahir dari air dan Roh tidak bisa direduksi menjadi sekadar upacara baptisan (ritual). Baptisan adalah tanda luar dari kelahiran baru yang sudah terjadi di dalam dan melalui pertobatan yang disadari dan penyerahan diri secara total. Kelahiran baru menuntut respons pribadi, yaitu menyerah total kepada kehendak Allah.

Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Apa itu yang lama? Yaitu hidup menurut pola kerajaan dunia: mengejar kekuasaan, membalas kekerasan dengan kekerasan, dan hidup dalam kemunafikan agama. Apa itu yang baru? Hidup menurut pola Kerajaan Allah sebagai mana diteladankan Kristus dalam khotbah di bukit.

Oleh: Pdt. Eddy SS

 

share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *