“IMAN INJILI”
— No.: 02/01/XXVII/2026 | Minggu, 11 Januari 2026 | Bahan: 2 Timotius 1:8-14 –—
Iman Injili (Fides Evangelica) adalah tema yang ditetapkan Sinode GKMI sepanjang 2026 untuk menjemaatkan asas kepercayaan GKMI sebagai komunitas Mennonite Indonesia sekaligus anggota dari keluarga besar Kristen yang mengakui warisan Reformasi Protestan. Bagaimana kita memahami frase ini ? Lagu ‘The True Evangelical Faith’ yang digubah oleh Menno Simons, pelopor gerakan Anabaptis abad 16 berbunyi “Iman Injili yang murni takkan tidur. Yang telanjang dib’ri sandang, yang susah dihiburkan, yang lapar dib’ri makan, orang asing ditampungnya …” (Iman Injili – PPR 2 no. 548) selama ini menolong kita memahami perwujudan iman injili dalam kehidupan praktis sebagai murid Kristus.
Jauh sebelumnya pada abad pertama, rasul Paulus dalam surat keduanya kepada Timotius memuji ketulusan iman anak rohaninya sebagaimana dimiliki oleh sang ibu, Lois dan nenek, Eunike (1:5). Tak cukup sampai di situ, Paulus dari balik jeruji besi Roma mendorong Timotius sebagai gembala muda jemaat Efesus untuk tidak malu karena “kesaksian tentang Tuhan kita” dan karena dirinya sebagai “tawanan-Nya” (ayat 8). Bersaksi tentang Kristus itulah Injil yang untuknya Paulus menjalani hidup sebagai manusia baru dan dipanggil sebagai rasul. Paulus mempunyai keyakinan yang kokoh (‘not ashamed’ – NIV) dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Roma 1:16). Kenyataan bahwa rasul Paulus adalah seorang hukuman juga bukan alasan bagi Timotius untuk malu, sebaliknya ia perlu ikut menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Tidak ada alasan bagi Timotius untuk malu karena Injil, sebaliknya berbesar hati karena Injil yang luar biasa. Itulah Iman Injili.
Bagaimana dengan kita? Bagaimana mewujudkan iman injili pada jaman ini? Meskipun tantangan dan tekanan terhadap iman Kekristenan berbeda dibandingkan pada jaman rasul Paulus dan Timotius, sebagai murid Kristus kita mengemban Injil yang sama. Keteladanan hidup Kristus sebagaimana diungkapkan dan dihidupki Menno Simons dalam lagu di atas menyatakan bahwa iman Injili yang sejati tidak berpangku tangan sebaliknya melayani Allah melalui kasih kepada sesama: memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi makan kepada yang lapar, menghibur yang berduka, melindungi yang miskin, membantu dan menghibur yang sedih, membalas kejahatan dengan kebaikan, melayani orang-orang yang menyakitinya, berdoa untuk orang-orang yang menganiayanya. Ia mengajar, menasihati dan menegur dengan Firman Allah, mencari yang hilang, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit dan menyelamatkan yang sehat. Ia telah menjadi segala sesuatu bagi semua orang. Penganiayaan, penderitaan dan kesengsaraan yang menimpanya demi kebenaran Tuhan adalah sukacita dan penghiburan yang mulia baginya. Kiranya oleh kekuatan Allah, kasih Kristus dan tuntunan Roh Kudus, Iman Injili menjadi bagian hidup kita.
Oleh: Pdt. Eliezer Pranawa Setiawan
Recommended Posts
“KELUARGA YANG BERBUAH; YANG TAKUT AKAN TUHAN”
January 17, 2026
“BANYAK ANGGOTA, SATU TUBUH”
January 03, 2026
“KEMENANGAN ATAU PENYESALAN”
December 27, 2025

