“KELUARGA YANG PEDULI; TENTANG YANG HILANG”

— No.: 06/02/XXVII/2026 | Minggu, 08 Februari 2026 | Bahan: Lukas 15:22-32

Yesus adalah seorang pribadi yang membenci dosa tetapi mengasihi orang berdosa. Sebuah hal yang sulit untuk dipahami bagi kebanyakan orang pada waktu itu. Tak heran jika Orang Farisi dan Ahli Taurat pada waktu itu bersungut-sungut karena Yesus bergaul dengan orang-orang yang mereka anggap berdosa. Dalam pandangan orang banyak pada waktu itu, ada suatu “kemelekatan” antara perbuatan dosa dengan pelaku dosa, sehingga orang yang telah banyak berbuat dosa pasti akan dijauhi. Dalam “bingkai pemikiran” inilah Tuhan Yesus memberikan perumpamaan-perumpamaan tentang yang “terhilang” sebagai sebuah jawaban kontras yang memutarbalikkan pemahaman banyak orang mengenai “orang berdosa.” Di mulai dari perumpamaan domba yang hilang, dirham yang hilang, dan puncaknya adalah perumpamaan tentang anak yang hilang.

Ada yang berbeda dengan kisah anak yang hilang dibandingkan dengan dua kisah sebelumnya (domba dan dirham yang hilang). Di dalam kisah domba dan dirham yang hilang, yang aktif mencari adalah “yang kehilangan.” Sedangkan dalam kisah yang kita baca hari ini, justru yang aktif bukanlah bapa “yang kehilangan anaknya itu”, melainkan sang anak “yang terhilang.” Sebab itu, melalui pengalaman si bungsu yang bersalah, namun tetap berani pulang sehingga dia mengetahui betapa baiknya bapa nya, hal ini seharusnya menjadi kekuatan bagi kita semua yang mungkin hari ini merasa bersalah untuk berani kembali dan dipulihkan lagi oleh-Nya. Seperti yang dikatakan J.I. Packer, kita harus bersyukur sebab “Allah kita adalah Allah yang tidak hanya memulihkan, tetapi mengambil kesalahan dan kebodohan kita dalam rencana-Nya bagi kita dan mengubahnya menjadi kebaikan bagi kita.”

Tetapi puncak dari perumpamaan ini justru ditujukan kepada anak sulung. Tuhan Yesus mengajak kita melihat sosok anak sulung, seorang yang tampak setia, taat, dan tidak pernah meninggalkan rumah, tetapi hatinya penuh kepahitan dan sulit bersukacita atas pemulihan yang terjadi pada saudaranya. Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang merasa diri paling benar, tetapi tidak memiliki belas kasihan terhadap orang berdosa. Anak sulung menjadi cermin bagi mereka dan juga bagi kita, yang mungkin rajin beribadah dan melayani, tetapi tanpa sadar menyimpan sikap menghakimi, iri hati, dan sulit mengampuni. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan kita untuk melihat orang lain dari “kacamata kasih karunia.” Kita tidak berhak menentukan siapa yang layak menerima anugerah Allah. Sebab di dalam keluarga Allah, kita dipanggil bukan hanya untuk memanggil Allah sebagai “Bapa,” tetapi juga belajar menyebut sesama kita sebagai “saudara.”

Yesus Kristus adalah Anak Sulung yang sejati, yang tidak menolak orang berdosa, tetapi justru turun mencari yang hilang dan memberikan hidup-Nya bagi keselamatan kita. Di dalam Kristus, yang hilang dipulihkan, yang berdosa diampuni, dan tercerai berai disatukan kembali. Kiranya kita bersama keluarga dapat menjadi keluarga yang peduli, yang bukan hanya mencari yang hilang, tetapi juga membuka hati untuk mengampuni, menerima, dan bersukacita atas karya kasih karunia Tuhan.

Oleh: Pdm. Nicholas Evan Setiawan

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *