“PENGHARAPAN DIMULAI DARI JANJI”

— No.: 44/10/XXVII/2026 | Minggu, 01 November 2026| Bahan: Yesaya 7:14; 9:5-6; 2 Korintus 1:20 —

 Kitab Yesaya pasal 7-12 sering dipakai sebagai bagian “kitab Imanuel” yang menekankan kehadiran Allah dalam peristiwa sejarah. Yesaya 7 berpusat dari krisis politik dan militer yang melanda kerajaan Yehuda pada masa pemerintahan raja Ahas. Pada waktu itu kerajaan Yehuda berada di tengah ancaman dua kerajaan sekaligus, yaitu kerajaan Aram yang dipimpin oleh Rezin dan Pekah anak Remalya dari kerajaan Israel. Mereka membentuk aliansi untuk menyerbu Yerusalem (Yesaya 7:1-2). Raja Ahas ketakutan mendengar rencana raja Rezin dan raja Pekah dikarenakan militer dan politiknya sedang rapuh.

Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan yang sudah berjanji kepada keturunan Daud untuk menyertai dan memberkatinya, memberikan penguatan kepada raja Ahas melalui nabi Yesaya. Raja Ahas tidak perlu takut dan kecut hati menghadapi amarah dari aliansi dua raja tersebut. Yang harus dilakukan raja Ahas adalah tetap tenang dan meneguhkan hatinya di dalam Tuhan. Dua raja ini hanya disebut Tuhan “kedua puntung kayu api yang berasap.” Bagi Tuhan, dua raja ini bukanlah siapa-siapa. Kekuatan militer mereka hanyalah “api kecil,” kekuatannya tidaklah seberapa.

Tuhan memberikan tanda yang jelas dalam pertolongan yang akan diberikan untuk umat-Nya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Sangat disayangkan, raja Ahas tidak mempercayai janji Tuhan, ia menolak janji-Nya dan memilih untuk bersekutu dengan Asyur, negara adi daya untuk melindungi dan mendapatkan “keselamatan” dari situasi politik yang kurang baik. Tuhan yang setia akan janji-Nya, melanjutkan memberikan tanda yang jelas kepada Israel: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Tetapi sekali lagi, Israel menolak Tuhan. Janji hanyalah janji, mereka butuh nyata pertolongan dalam menghadapi situasi sukar.

Apakah Tuhan ingkar janji? Tidak, tidak pernah Ia ingkar janji. Seharusnya janji Tuhan itu ditempatkan sebagai pengharapan akan kuasa dan kasih Tuhan yang senantiasa diberikan kepada umat-Nya. Bila Tuhan berjanji, maka Ia pasti akan menggenapi-Nya. Dimulai dari janji Tuhan, pengharapan itu pasti akan diwujudnyatakan-Nya. Amin.

Oleh: Pdt. Eddy SS

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *