“PENGOSONGAN DIRI YESUS”

— No.: 17/04/XXVII/2026 | Minggu, 26 April 2026 | Bahan: Filipi 2:5-1 —

Pada tahun 451 M, para pemimpin di Chalcedon menulis sebuah kredo yang menegaskan kemanusiaan Yesus yang penuh dan keilahian-Nya yang penuh, yang bersatu dalam satu pribadi, yaitu pribadi Yesus. Kredo ini dilatar belakangi oleh perdebatan yang panjang tentang siapakah Yesus, apakah Ia manusia? atau Ia Allah? Atau…? Pada waktu itu ada beberapa posisi alternatif yang berkembang tentang Yesus, diantaranya yaitu: mereka yang menyangkal kodrat ilahi Kristus (ebionisme), menyangkal kepenuhan keilahian Kristus (arianisme), menyangkal kemanusiaan Yesus (dosetisme), menyangkal kemanusiaan Yesus yang penuh (apollinarianisme), menyangkal kesatuan kodrat dalam satu pribadi (nestorianisme). Konsili di Chacedon memberikan jawaban yang jelas tentang siapa Yesus.

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah kemanusiaan dan keilahian Yesus ditentukan oleh suatu konsili? Sudah tentu tidak. Jauh sebelumnya, di abad pertama sekitar tahun 62 M, Paulus sudah menulis surat kepada jemaat di Filipi bahwa “Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Paulus memberikan pernyataan yang jelas bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan Dia adalah manusia. Dalam bahasa sekarang: “100 persen Allah dan 100 persen manusia.” Memang benar, ini tidak mudah dipahami oleh keterbatasan pikiran manusia tetapi tidak menghalangi pemikiran manusia untuk menerima realitas ini.

Jemat di Filipi didorong Paulus untuk menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus yang mengosongkan diri-Nya. Kerendahhatian-Nya justru membuat Allah meninggikan Kristus. Teladan yang sangat baik untuk jemaat di Filipi dan tentunya untuk semua manusia.

Baik, bila kita juga memperhatikan apa yang Menno Simons tulis:

“Belajarlah untuk mengetahui apa yang diderita oleh Putra Allah yang kekal, Kristus Yesus, di bumi, apa yang Dia ajarkan, dan teladan apa yang Dia tinggalkan bagimu. Dia mencari kemuliaan Bapa-Nya dan keselamatan jiwa-jiwa kita yang malang. Ajaran-Nya adalah Firman Bapa-Nya, dan kemajuan-Nya adalah jalan yang pasti menuju kerajaan Allah. Dia datang ke dunia yang penuh duka ini, miskin dan sengsara. Tidak ada tempat bagi-Nya di penginapan ketika Dia dilahirkan; tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya selama pelayanan-Nya; dan tidak ada tempat untuk memuaskan dahaga-Nya dalam kematian-Nya. Namun Dialah satu-satunya yang melalui-Nya Bapa Yang Mahakuasa dan Maha Pemurah menyediakan bagi semua makhluk ciptaan-Nya tempat tinggal, perlindungan, makanan dan minuman.”

Amin.

Oleh: Pdt. Eddy SS

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *