“MAHLIGAI CINTA YANG PERTAMA”

— No.: 27/07/XXVII/2026 | Minggu, 05 Juli 2026 | Bahan: Kejadian 2:4b-25 —

Manusia memang istimewa. Bagaimana tidak? Tuhan menciptakan manusia setelah segala ciptaan-Nya “tersedia” untuk manusia. Bisa diartikan bahwa Tuhan mempersiapkan segala ciptaan-Nya untuk nantinya dipergunakan oleh manusia dengan bijak. Bahkan lebih dari itu, manusia diberi mandat oleh Tuhan untuk memeliharakan bumi dan merawatnya. Lebih istimewa lagi, sebab manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia menjadi wakil Allah atas segala ciptaan-Nya. Tuhan memberi nama Adam pada manusia itu. Kata “Adam” mempunyai makna sebagai perbedaan antara ciptaan Tuhan manusia dan non-manusia. Sangat istimewa manusia bagi Tuhan.

Dalam konteks keluarga, kita ada kesulitan untuk mendapat contoh yang sempurna dalam keluarga-keluarga yang ada di Alkitab. Adam dan Hawa yang diciptakan Tuhan, boleh dikatakan adalah contoh keluarga yang sempurna. Alasannya: Hawa diciptakan Tuhan ketika didapati bahwa tidak ada yang sepadan dengan kemampuan Adam dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain. Diciptakanlah Hawa yang benar-benar sepadan dengan Adam.

Demikian juga bahwa Hawa diciptakan dari “bagian Adam” (tulang rusuk). Hawa adalah bagian dari Adam. Hawa adalah Adam, demikian sebaliknya. Demikianlah keduanya menjadi “satu daging.” Benar-benar jodoh yang sempurna.

Dari hal ini kita mendapati bahwa keluarga yang diciptakan Tuhan adalah baik adanya dan sempurna. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya dihadapan Tuhan. Adam yang hebat dan Hawa yang menjadi penolong yang sepadan. Benar bahwa mereka adalah dua pribadi tapi mereka “satu daging.” Tujuan, visi dan langkah yang sama. Sayangnya, mahligai cinta pertama ini yang dibangun Tuhan ini rusak karena dosa. Keluarga pertama ini tidak mampu melaksakan apa yang seharusnya Tuhan inginkan dalam keluarga pertama ini.

Keluarga-keluarga di masa kini adalah keluarga (orang-orang) yang jatuh dalam dosa. Kita tidak ada kesulitan menemukan bahwa perempuan hanyalah “konco wingking.” Perannya hanya di bagian yang tidak penting. Posisi perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kekerasan dalam rumah tangga (biasanya korbannya perempuan) bisa juga terjadi dalam keluarga Kristen. Sudah tentu hal-hal seperti ini jauh dari maksud baik Tuhan.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menjadi dan bertumbuh sebagai keluarga yang sempurna, sesuai dengan tujuan Allah? Mari kita belajar dari keluarga Adam dan Hawa sebelum kejatuhan, keluarga yang diciptakan sendiri oleh Tuhan. Amin.

Oleh: Pdt. Eddy SS

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *