“SEBAGAI TAWANAN ROH MENUJU YERUSALEM”
— No.: 31/08/XXVII/2026 | Minggu, 02 Agustus 2026| Bahan: Kisah Para Rasul 20:22-24 —
Manusia secara umum memiliki sifat defensif atau mekanisme bertahan hidup (survival mechanism) yang dipicu oleh insting bawaan untuk menjaga keselamatan diri. Terjadinya ancaman memicu ragam respon manusia dalam bertahan hidup, bagi yang memiliki kekuatan mereka melawan (fight) sebagai respon, yang lain memilih untuk menghindari ancaman (flight), bahkan ada juga yang tidak berdaya (freeze) sehingga di kuasai pihak lain/sumber ancaman secara paksa dan menjadi tawanan.
Rasul Paulus sebagai seorang utusan Injil, sering sekali menghadapi ancaman dalam hidupnya, salah satunya adalah ancaman dari orang-orang Yahudi yang ingin membunuh dia (Kisah Para Rasul 20:3;19;21:31-33). Dalam situasi ini maka rekan-rekan sepelayanan Paulus menasehati dan meminta supaya Paulus tidak kembali ke Yerusalem sebagai respons menghindari ancaman supaya tetap aman dan hidup (Kisah Para Rasul 21:4;12).
Menjelang akhir dari perjalanan misinya yang ke-3, Paulus ingin segera kembali ke Yerusalem untuk merayakan Hari Raya Pentakosta (Kisah Para Rasul 20:16). Pada saat tiba di Miletus Paulus meminta supaya penatua jemaat Efesus datang dan melakukan perpisahan (Kisah Para Rasul 20:17). Dalam perpisahannya, Rasul Paulus mengajak para penatua Efesus untuk flashback melihat perjalanan pelayan yang sangat sulit dan berbahaya. Keadaan yang digambarkan dengan perjalanan yang penuh dengan air mata menghadapi percobaan pembunuhan oleh orang-orang Yahudi, supaya tidak lagi ada pewartaan Injil Kristus (Kisah Para Rasul 20:19). Kendati demikian ia tidak pernah berhenti untuk bersaksi supaya orang bertobat yaitu mereka orang Yahudi maupun orang Yunani (Kisah Para Rasul 20:20-21).
Di tengah ancaman, penangkapan, penawanan, dari orang-orang Yahudi yang sangat ingin menyudahi nyawanya, tentu merupakan sebuah situasi yang mengerikan dan semestinya dihindari, Paulus justru membagikan kesaksian iman yang begitu mendalam dengan mengatakan “……Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem…” (Kisah Para Rasul 20:22). Ungkapan Paulus ini di luar dari respon psikologis manusia dalam menghadapi ancaman (fight-flight-freeze), namun sebuah tindakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Apa motivasi Paulus dibalik responnya akan ancaman ini?
Tawanan, secara umum kata ini dipahami sebagai seorang yang dirampas, ditangkap, ditahan, disandera dengan paksa. Dalam terjemahan yang lain dituliskan “bound in the spirit – terikat dalam Roh” KJV, sedangkan BIMK menerjemahkan dengan “Mentaati perintah Roh Allah”. Ungkapan Paulus sebagai tawanan Roh, ia ingin menyampaikan bahwa ada hal yang lebih penting daripada nyawanya sendiri yaitu ketundukannya dalam menaati perintah Roh Allah. Keputusannya, untuk lebih takut menjadi pribadi yang tidak tunduk/memberontak kepada Allah jauh lebih besar, dibanding ketakutannya akan ancaman mati dari orang-orang Yahudi. Militansi Paulus begitu luar biasa didasari adanya kesadaran akan anugerah yang besar sebagai pribadi yang dipanggil untuk menjadi saksi dan pemberita Injil kasih karunia Allah. Ia mengatakan “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku….” (Kisah Para Rasul 20:24) baginya selama masih bernafas maka tugas pelayanan belum mencapai garis akhir.
Injil kasih karunia yang begitu menawan, membuat Paulus tertawan akan pesona-Nya, membuat Paulus tak mampu hidup tanpa mencintai, mengabdikan diri, menyerahkan diri, rela terikat akan kasih Allah untuk tetap menikmati cinta-Nya yang hebat. Maka dapat dilihat bahwa ungkapan “sebagai tawanan”, tidak sedang menunjukan bahwa Paulus terpaksa dalam melaksanakan tugasnya melainkan sebuah ungkapan betapa dalamnya relasinya dengan Kristus. Dengan apapun yang akan terjadi ia akan tetap memilih dengan rela terikat dalam keagungan Injil kasih karunia Allah, sampai kembali ke tempat tujuan terakhir yaitu Yerusalem.
Yerusalem, erat hubunganya dengan Sion, tempat Bait Allah pertama didirikan oleh Salomo. Yerusalem adalah tempat pilihan Allah dan hadirat-Nya, perlindungan dan kemuliaan-Nya. Yerusalem menjadi sentral penyembahan, dan sangat penting dalam tradisi iman Yahudi sebagai tempat yang kudus. Secara makna kata, Yerusalem merupakan gabungan dari dua kata: שָׁלֵם – SHALEM atau שָׁלוֹם – SHALOM, damai, dan kata יָרָה – YARAH, artinya: mengajar. Jadi gabungan kedua kata tersebut membentuk makna: “Mengajar tentang Kedamaian.”
Meski menjadi pusat mengajar tentang kedamaian, tempat ini tidak lepas dari ketidaksetiaan dan pendurhakaan bangsa Yahudi itu sendiri (Yesaya 1:21; Matius 23:37). Kitab sejarah mencatat bahwa pendurhakaan itu membangkitkan amarah ilahi dan hukuman. Yerusalem gagal menjadi tempat yang menggambarkan shalom seperti namanya. Maka dalam kitab Wahyu muncul istilah Yerusalem Baru. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” (Wahyu 21:2). Dikatakan ‘turun dari Sorga’, sebab Yerusalem ini tidak membawa konsep ragawi/hal yang berkaitan dengan bumi yang fana. Disebut ‘kudus’ karena ia terpisah dengan dosa dan dikhususkan bagi Allah. Yerusalem yang Baru juga dapat dipahami sebagai Gereja Kristus, yaitu sang mempelai perempuan Kristus, Anak Domba (Yesaya 54:5, Efesus 5:32).
Jika demikian Gereja tidak dapat dipisahkan dari keberadaan orang-orang percaya, maka Yerusalem baru, tentu berkait erat dengan murid-murid Kristus sebagai representasi dari Yerusalem baru untuk membagikan kedamaian bagi seluruh umat.
Kembali kepada tema kita “Sebagai Tawanan Roh menuju Yerusalem” secara sederhana dan singkat adalah sebuah “Jalan Hidup” yang kita pilih dengan sadar sebagai ketundukan dalam mengikatkan diri kepada Injil kasih karunia Allah yang begitu mempesona dan membuat kita tidak mampu berpaling dari-Nya, dengan sukarela dan bangga mengerjakan tugas dan panggilan-Nya untuk mengajarkan dan membagikan kedamaian Allah sampai akhir hidup bagi bangsa-bangsa.
Maka belajar dari kisah Rasul Paulus kita dapat mengambil nilai-nilai hidup yang mengarah kepada Kristus tentang:
- Cintanya kepada Kristus yang begitu mendalam.
- Ketundukannya sebagai hamba dalam melaksanakan tugas dan bertanggung jawab dalam pelayanan.
- Militan dalam pewartaan Injil. Kita melihat Paulus tidak sekedarnya atau cari enaknya, seperti kebanyakan orang pada umumnya.
- Kerelaan dan pengorbanan, bahkan nyawa seperti teladan Kristus yang mati bagi umat manusia. Karakter yang mulai hilang pada zaman ini, karena jika itu menyusahkan lebih baik menghindar.
- Kesetiannya, selama nafas masih ada maka tugas memberitakan Kerajaan Allah masih ada. “Jangan mati sebelum hidup melayani Tuhan”
Kiranya Firman Tuhan boleh terus mengajar dan membentuk kita sebagai komunitas murid yang sungguh-sungguh hidup melayani dan menjadi duta injil kasih karunia Allah. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Pdm. Santiko Adi Winanto
Recommended Posts
“NAMA TUHAN DI RIMBA KEKERASAN”
July 25, 2026
“KITA SEMUA BERSAUDARA: MENJADI PENJAGA SESAMA”
July 18, 2026
“KETIKA BAIK, TIDAK SELALU BAIK”
July 11, 2026

