“BERSIH DAN JUJUR”
by Pdt. Eddy SS
— No.: 35/08/XXVII/2026 | Minggu, 30 Agustus 2026| Bahan: Kisah Para Rasul 20:24-27 —
Ini salah satu perpisahan Paulus yang menyentuh hati. Bagaimana tidak? Pada pertemuannya dengan para penatua Efesus, Paulus berkata: “kamu tidak akan melihat mukaku lagi.” Hal ini sangat terkait dengan kesadaran Paulus bahwa penjara dan sengsara menunggunya (ayat 23) dalam perjalanan menuju Yerusalem yang segera dilakukannya. Paulus mengerti bahwa waktunya di dunia sudah makin dekat.
Perpisahan itu dipakai Paulus untuk memberikan pertanggung jawaban kepada mereka tentang apa yang dilakukannya selama ini. Paulus mengatakan bahwa dia tidak bersalah atas dosa siapapun (ayat 26). Kata tidak bersalah dapat diterjemahkan bersih atau murni. Paulus mengatakan nuraninya bersih. Ia tidak pernah berbuat jahat terhadap siapapun atau merancang kejahatan kepada siapapun.
Pelayanan mengharuskan adanya kemurnian di pihak si pelayan. Tidak terlalu susah untuk menjaga hati dan tangan kita bersih, bila orang melakukan kita dengan benar. Lebih sulit menjaga hati dan tangan kita bersih bila orang memperlakukan kita dengan buruk. Paulus mengalami banyak perlakuan buruk, namun ia berhasil menjaga tangan dan hatinya bersih. Pertanyaannya, bagaimanakah caranya ia melakukan itu? Bagaimana Paulus bisa tetap tidak ternoda oleh tipu muslihat yang digunakan terhadapnya? Bagaimana Paulus tidak membalas orang-orang yang berbuat jahat kepadanya?
Untuk memperoleh jawabannya, mari kita baca kembali ayat 24: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun (menganggap hidupnya tidak berharga), asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Paulus bisa menjaga hatinya dan tangannya bersih adalah karena ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Baginya, ia tidak berharga. Itu sebab ia tidak menanggapi perlakukan orang terhadapnya. Sebab, bukan dia bukan apa-apa. Tidak ada yang bisa lebih rendah dari apa-apa!
Satu hal penting lagi yang dikatakan Paulus: “Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu” (ayat 27). Apapun yang Tuhan perintahkan katakan, Paulus akan katakan. Dia tidak akan memilih-milih karena takut kepada orang, mana yang ia katakan atau mana yang tidak akan dia katakan. Dia hanya akan menerima perintah dari Tuhan Yesus, bukan dari orang-orang. Paulus adalah orang yang memperlakukan semua orang sama di hadapan Tuhan. Amin.
Oleh: Pdt. Eddy SS
Recommended Posts
“PEMISAH MANUSIA DAN ALLAH”
August 22, 2026
“KEMERDEKAAN KRISTEN”
August 16, 2026
“DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH”
August 09, 2026

