“TIDAK ADA PERNIKAHAN YANG SEMPURNA”

— No.: 25/06/XXVII/2026 | Minggu, 21 Juni 2026 | Bahan: 1 Korintus 1:18-21 —

Di zaman sekarang, kita hidup di tengah berbagai macam pemikiran yang membentuk cara pandang kita terhadap pernikahan. Dunia ini menggambarkan keluarga yang ideal sebagai: pasangan yang selalu romantis, komunikasi yang selalu lancar, dan kehidupan rumah tangga yang tampak tanpa masalah. Sadar atau tidak, sedikit demi sedikit, cara berpikir ini membentuk harapan kita terhadap pernikahan dan keluarga. Dan ketika kenyataan tidak seindah harapan, kekecewaan pun muncul. Padahal, Alkitab mengingatkan bahwa cara pandang dunia tidak selalu sejalan dengan hikmat Allah.

Dalam 1 Korintus 1:18-21, Rasul Paulus menjelaskan bahwa pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan dianggap sebagai kebodohan oleh dunia. Orang Yahudi mengharapkan Mesias yang penuh kemenangan dan kemuliaan, sedangkan orang Yunani mengagungkan hikmat dan filsafat manusia. Karena itu, salib Kristus menjadi batu sandungan bagi yang satu dan kebodohan bagi yang lain. Namun justru melalui salib itulah Allah menyatakan kuasa dan hikmat-Nya.

Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan pernikahan. Dunia berkata bahwa kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh menemukan pasangan yang sempurna. Dunia mengajarkan bahwa pernikahan yang baik adalah pernikahan yang bebas dari konflik dan selalu memenuhi “kebutuhan” kita. Sebaliknya, Injil mengajarkan sesuatu yang berbeda. Pernikahan bukanlah tentang dua orang yang sempurna, melainkan tentang dua orang berdosa yang sama-sama membutuhkan kasih karunia Allah. Sebagaimana Kristus mengasihi gereja-Nya melalui pengorbanan di kayu salib, demikian pula suami dan istri dipanggil untuk belajar mengasihi, mengampuni, melayani, dan merendahkan diri satu terhadap yang lain. Dunia menganggap mengalah sebagai kekalahan, meminta maaf sebagai kelemahan, dan mengampuni sebagai kebodohan. Tetapi salib Kristus justru menunjukkan bahwa kerendahan hati, pengampunan, dan kasih yang berkorban adalah kekuatan yang sejati.

Tidak ada teori, seminar, atau kemampuan komunikasi yang dapat menciptakan keluarga yang sempurna. Sebab, sejatinya memang tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, dan tidak ada keluarga yang sempurna. Tetapi ada Juruselamat yang sempurna, yaitu Yesus Kristus. Dan melalui salib-Nya, kita menemukan pengharapan bahwa kasih karunia Allah yang sempurna sanggup memelihara keluarga-keluarga yang tidak sempurna menjadi keluarga yang terus bertumbuh dan semakin memuliakan Tuhan. Ketika Kristus yang sempurna itu menjadi pusat keluarga, mungkin kita akan tetap menghadapi berbagai persoalan, namun keluarga kita akan menjadi tempat di mana anugerah-Nya dinyatakan dan nama-Nya dipermuliakan.

Oleh: Pdm. Nicholas Evan Setiawan

share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *