“NAMA TUHAN DI RIMBA KEKERASAN”

— No.: 30/07/XXVII/2026 | Minggu, 26 Juli 2026 | Bahan: Kejadian 4:17-26 —

Kelanjutan langsung dari riwayat Kain, yang kita baca dalam Kejadian 4:17-26 mungkin terbilang jarang dibahas. Tetapi kisah ini menarik dan penting. Pertama, kisah ini memberitahu kita tentang pandangan masyarakat kuno mengenai terbentuknya peradaban awal. Mengejutkan bahwa Kain, pelaku kekerasan yang berujung maut menjadi perintis peradaban; ia mendirikan kota. Dari garis keturunan Kain muncul “bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak” (Yabal), “bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling” (Yubal), dan “bapa semua tukang tembaga dan tukang besi” (Tubal-Kain) (Kejadian 4:20-22).

Kedua, kisah ini juga melukiskan intensitas kekerasan yang semakin brutal sekaligus penyimpangan terhadap tuntutan keadilan. Kita melihat hal ini dalam garis keturunan yang sama. Lamekh, keturunan yang kelima dari Kain, telah membunuh seorang laki-laki muda yang telah membuatnya memar. Kedua hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah masyarakat kuno berpandangan bahwa sejak semula peradaban tidak lepas dari kekerasan dan pelampiasan dendam?

Ketiga, kisah ini juga menuturkan adanya “jalur lain” di samping para pembangun peradaban, yakni keturunan Set, pengganti Habel. Dikatakan bahwa sejak zaman Enos, putra Set, orang mulai memanggil nama TUHAN. Dari jalur “religius” ini, tidak dituturkan terjadinya kekerasan. Kesan kita, ada dua jalur keturunan sang manusia; yang satu jalur pembangun peradaban awal, dan yang satunya lagi jalur kaum yang beriman kepada TUHAN. Jalur pertama diwarnai dengan kekerasan, jalur kedua tidak. Kita pun bertanya: Apakah pembangunan peradaban berkaitkelindan dengan kekerasan.

Kita, anak-anak Allah, adalah orang-orang yang berseru kepada Tuhan dan diselamatkan (lihat Roma 10:13). Kita menyadari bahwa kita diselamatkan di dalam dunia untuk bersaksi kepada dunia yang sarat dengan kekerasan dalam berbagai jenis dan bentuknya. Kita dipanggil untuk menghayati kesetaraan perempuan dan laki-laki, menghormati harkat dan martabat baik perempuan maupun laki-laki, meyakini suami dan istri adalah mitra Allah dalam membuat dunia ini menjadi lebih baik, setia dalam pernikahan monogami, menolak segala jenis dan bentuk kekerasan… Di rimba kekerasan, kita dipanggil untuk bersaksi tentang Tuhan dengan menghayati suatu cara hidup alternatif yang dipakai-Nya untuk menggugah kesadaran banyak orang.

Oleh: Pdt. Eddy SS

Diringkas dari khotbah Minggu ke-4 bulan keluarga tahun 2026 Sinode GKMI

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *