“KELUARGA YANG BERDAMPAK”
by Pdt. Eddy SS
— No.: 23/06/XXVII/2026 | Minggu, 07 Juni 2026 | Bahan: Efesus 4:13-16 —
Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus tujuannya agar mereka bertumbuh dewasa, seperti laki-laki dewasa bukan seperti anak-anak. Ketika seseorang melayani, ia bertumbuh ke arah kedewasaan dan seharusnya semakin dewasa. Sementara itu disadari bahwa pertumbuhan rohani bukan hanya tentang intelektual, ada hal-hal lain juga yang perlu diperhatikan.
Dalam teks ini, Paulus menyebutkan setidaknya ada empat ciri orang dewasa rohani, yaitu: pertama, kedewasaan melibatkan keserupaan dengan Kristus (ayat 13). Gambar utama kedewasaan adalah Kristus. Tujuan kita adalah keserupaan dengan Kristus, maka kepenuhan Kristus menjadi ukuran dari tingkat pertumbuhan. Sebagai keluarga, keserupaan Kristus adalah hal utama yang menjadi tujuan dari keluarga itu sendiri. Apapun yang menjadi kegerakan atai ciri dari keluarga, semuanya harus menuju kepada keserupaan dengan Kristus.
Kedua, kedewasaan melibatkan stabilitas iman dan pengetahuan (ayat 13-14). Kesatuan iman dan pengetahuan tentang Anak Allah melibatkan intelektualitas dan hati. Keluarga yang dewasa seharusnya berkembang dalam kemampuan pikir dan rasa. Kemampuan ini tidak hanya memperhatikan kondisi sekarang saja tetapi juga tentang masa depan. Dengan mempunyai stabilitas iman dan pengetahuan maka keluarga-keluarga akan mempunyai dampak yang baik bagi masyarakat luas.
Ketiga, kedewasaan melibatkan kebenaran yang dipadukan kasih (ayat 15-16). Semuanya kebenaran sepertinya bisa menjadi sia-sia bila tidak didasarkan atas kasih. Langkah dari keluarga seharusnya bukan hanya mengedepankan tentang kemampuan olah rasa dan pikir tetapi lebih kepada kasih. Dalam banyak hal, kasih menjadi terdepan. Kasih pula yang membuat Kristus datang ke dunia. Bila hanya berdasar rasa dan pikir maka sangat kecil kemungkinan Kristus datang ke dunia.
Keempat, kedewasaan melibatkan kontribusi (ayat 16). Metafora tubuh menolong kita untuk memahami bahwa setiap bagian kita adalah satu kesatuan dan semuanya punya tugas dan tanggung jawab masing-masing. Kontribusi dari setiap anggota tubuh berdampak terhadap keseluruhan tubuh. Apapun yang kita lakukan selalu berdampak. Tentu kita semua berharap dan menginginkan bahwa dampak yang terjadi adalah dampak yang positif. Hal ini sangat mungkin sebab sebagai anggota tubuh kita perlu mengarahkan diri bahwa Kristus adalah kepala, kita adalah anggota tubuh. Amin.
Oleh: Pdt. Eddy SS

