“KETIKA BAIK, TIDAK SELALU BAIK”

— No.: 28/07/XXVII/2026 | Minggu, 12 Juli 2026 | Bahan: Kejadian 3:1-24 —

Sering kali persoalan terbesar dalam hidup bukanlah memilih antara yang baik dan yang jahat, melainkan memilih antara apa yang menurut kita baik dengan apa yang menurut Tuhan baik. Tidak sedikit keputusan yang tampak bijaksana, menguntungkan, bahkan penuh niat baik, tetapi pada akhirnya justru melukai relasi dan menjauhkan kita dari kehendak Allah. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk merenungkan sebuah kebenaran penting, bahwa tidak semua yang tampak baik akan menghasilkan kebaikan, jika Allah tidak menjadi pusat pertimbangannya.

Kisah kejatuhan manusia dalam Kejadian 3 menunjukkan bahwa dosa dimulai ketika manusia mengambil alih hak Allah untuk menentukan apa yang baik. Hawa melihat buah itu “baik” menurut penilaiannya sendiri, sementara Adam yang berada di sisinya memilih diam dan tidak menjalankan tanggung jawabnya. Akibatnya, dosa tidak hanya merusakkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan diri sendiri, sesama, dan seluruh ciptaan.

Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai rekan sekerja yang dipanggil untuk bersama-sama mencari kehendak-Nya. Keputusan-keputusan penting dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan bergereja tidak seharusnya diambil berdasarkan ego, kepentingan pribadi, atau perasaan semata, melainkan melalui komunikasi yang sehat, saling mendengar, saling mengoreksi, dan hati yang mau bersama-sama tunduk kepada firman Tuhan. Apa yang dianggap baik oleh kita belum tentu menjadi kebaikan bagi semua jika tidak diuji dalam terang kehendak Allah.

Namun Kejadian 3 tidak berakhir dengan penghukuman. Di tengah kegagalan manusia, Allah justru datang mencari Adam dan Hawa, menutupi rasa malu mereka, dan memulai karya pemulihan yang kelak digenapi secara sempurna melalui Yesus Kristus. Inilah pengharapan kita, bahwa ketika manusia gagal, kasih karunia Allah tidak pernah berhenti bekerja. Melalui Kristus, kita dipanggil untuk kembali hidup dalam relasi yang dipulihkan dengan Allah dan sesama, serta belajar membedakan dan melakukan apa yang sungguh baik menurut kehendak-Nya.

Kiranya melalui firman Tuhan ini kita belajar untuk tidak hanya bertanya, “Apakah ini baik menurut saya?” melainkan dengan rendah hati terus bertanya, “Apakah ini sungguh baik menurut Tuhan?” Sebab hanya ketika hidup kita dipimpin oleh hikmat-Nya, kita akan mengalami kebaikan yang sejati. Sebuah kebaikan yang memulihkan relasi, membawa damai, dan memuliakan Allah.

Oleh: Pdm. Nicholas Evan Setiawan

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *