“PENGEMBAN GAMBAR ALLAH”
— No.: 24/06/XXVII/2026 | Minggu, 14 Juni 2026 | Bahan: Kejadian 1:26-27; Efesus 4:24; Kolose 3:10 —
Indonesia sedang diguncangkan dengan peristiwa peristiwa yang memprihatinkan diantaranya :
- Petugas BNI yang menggelapkan uang nasabah gereja ( AHF)
- Pimpinan pondok pesantren mencabuli santrinya (KA)
- Ketua BGN yang diganti dan dijadikan tersangka ( DH)
- Pemuda di Punduh pedada yang menembak polisi ( Bahroni)
- Kasus penganiayaan anak di tempat penitipan anak di Yogya
Hal ini menjadi persoalan yang sangat memprihatinkan. Pejabat publik seharusnya menjadi pengayom atau pelindung justru menjadi aktor sebuah kriminalitas. Pejabat yang menjadi panutan justru memberikan contoh yang tidak benar. Tempat kerohanian yang dianggap paling nyaman bagi anak anak, justru menghancurkan masa depan mereka. Anak-anak muda yang menjadi harapan bangsa melakukan tindakan kriminal. Hal ini Menimbulkan traumatik serius.
Gereja hidup di tengah-tengah dunia yang gelap. Apakah gereja mampu meminimalisir atau menjawab persoalan-persoalan tersebut. Tentu ini bukan hal yang mudah.
Untuk menjawab dan mencoba memulai sebuah perubahan-perubahan kecil namun berdampak bagi kalayak ramai dan kehidupan umat, maka sebagai gereja kita hendaknya mengenal identitas diri kita sebagai umat Allah.
Dalam kitab Kejadian dijelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya. Jelas bahwa manusia diciptakan berbeda dengan makhluk yang lain. Allah menciptakan manusia dengan mengadakan musyawarah dengan sifat Tri Tunggal.
Segambar dan serupa berasal dari kata Tselem dan demuth. Tselem secara hurfiah berarti Salinan tiga dimensi, patung atau pahatan; Manusia adalah patung hidup yang mewakili kehadiran Allah di bumi. Demuth memiliki makna bahwa manusia memiliki kemiripan dalam karakter dan sifat-sifat Allah. Manusia mencerminkan sifat sifat Allah.
Dari kedua kata tersebut beberapa hal yang perlu kita renungkan adalah :
- Manusia tidak boleh hidup sama seperti dunia ini (Roma 12:2). Manusia memang tinggal di dunia, namun Ia bukan warga dunia, melainkan warga Kerajaan sorga (Filipi 3:20), yang standart hidupnya adalah standart hidup warga sorga yang dipimpin oleh Allah (Bersifat Illahi).
- Sebagaimana kita telah ditebus oleh Allah dengan kuasa darah-Nya, kita menjadi pribadi yang mencerminkan kehidupan yang baru, mengalami transformasi dan inovasi bagi kemuliaan Tuhan.
- Manusia harus hidup berbuah agar Bapa dimuliakan melalui kehidupan kita. Rasul Paulus berkata: Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup, namun Kristus yang hidup di dalamku (Galatia 2:20). Membiarkan dirinya dipenuhi dengan kepenuhan Allah.
- Menyadari bahwa tujuan utama hidupnya adalah untuk memperkenalkan Tuhan kepada dunia. Manusia diciptakan untuk rancangan Tuhan (Roma 11:36).
Kiranya sebagai gereja kita mampu menjadi secercah harapan bahwa kehidupan yang lebih baik bukanlah sebatas mimpi, namun harapan yang pasti dengan mengaplikasikan gambar Allah di tengah tengah komunitas yang majemuk. Selamat menyatakan kemuliaan Tuhan. Selamat menjadi “wakil” Allah di bumi. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Pdt. Yusak Heri Rudito
Recommended Posts
“KELUARGA YANG BERDAMPAK”
June 06, 2026
“HARTA YANG PALING BERHARGA”
May 30, 2026
“INJIL BAGI YANG SKEPTIS”
May 23, 2026

