“HARTA YANG PALING BERHARGA”
by Pdt. Eddy SS
— No.: 22/05/XXVII/2026 | Minggu, 31 Mei 2026 | Bahan: Lukas 12:13-34 —
Tuhan Yesus mengajarkan tentang “harta”, sebenarnya Ia sedang membicarakan tentang apa yang menjadi pusat hidup kita. Mengapa? Karena dengan harta kita berpikir ia menjadi jawaban atas berbagai persoalan kehidupan, mampu memberikan identitas, keamanan, kedamaian, bahkan keselamatan. Kenyataan inilah yang sedang dihadapi oleh generasi hari ini, yang bahkan rela lakukan segala sesuatu demi harta bahkan terjerat berbagai persoalan finansial (judol) karena hal ini. Generasi butuh diingatkan untuk tidak menjadi orang kaya yang bodoh itu, yang mencoba menyimpan harta kita sendiri dan mencari keamanan pada hal-hal selain Allah. Tetapi Injil justru menunjukkan Yesus Kristus meninggalkan kekayaan yang tidak terbatas di surga, mengosongkan diri-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa. Yesus mengalami penolakan, rasa tidak aman yang paling dahsyat, yaitu ditinggalkan oleh Bapa; supaya kita mendapatkan segala kepenuhan di dalam Kristus dan kini kita disebut sebagai anak-anak Allah. Kabar baik inilah yang perlu diwartakan agar generasi ini akhirnya punya sebuah keyakinan: Yesus satu-satunya kepuasan hidupku!
Di Indonesia, urbanisasi yang deras, konsumerisme, dan media sosial memperkuat hasrat akan kekayaan dan status di kalangan anak muda berusia 15-25 tahun. Dalam konteks ini, nas kita sangat relevan. Kita dipanggil untuk melakukan misi dan pekabaran Injil dengan menantang materialisme. Hendaknya ini mendorong para pemimpin muda untuk membangun komunitas-komunitas yang mencontohkan keugaharian (kesederhanaan) dan kemurahan hati. Sebutlah misalnya melalui proyek-proyek pelayanan atau pelayanan-pelayanan online yang mempromosikan pengelolaan sumber-sumber daya alih-alih konsumsi, membantu masyarakat Indonesia mengatasi kesenjangan ekonomi dan degradasi lingkungan, sambil membangun iman yang tangguh.
Memusatkan pekabaran Injil pada seruan Yesus untuk mengutamakan Kerajaan Allah akan menginspirasi upaya-upaya penjangkauan. Upaya-upaya tersebut mengungkapkan pengharapan yang nyata, yang mengajak kaum muda Indonesia untuk menggantikan pengejaran uang/harta benda yang penuh kecemasan dengan ketergantungan yang penuh sukacita kepada Kristus. Semuanya itu akanmentransformasikan kesaksian-kesaksian pribadi menjadi misi yang lebih luas, yakni transformasi yang utuh dan menyeluruh di Nusantara yang beragam yang sedang bergelut dengan kemiskinan dan kesenjangan sosial. Amin.
Sumber: Rancangan Khotbah Bulan Misi Tahun 2026 Sinode GKMI
Oleh: Pdt. Eddy SS

