“KITA SEMUA BERSAUDARA: MENJADI PENJAGA SESAMA”
by Dwi Sunami
— No.: 29/07/XXVII/2026 | Minggu, 19 Juli 2026 | Bahan: Kejadian 4:1-16 —
Kejadian 4:1-16 menuturkan kisah tentang keluarga pertama yang retak karena iri hati yang tidak diselesaikan, bahkan dibiarkan tumbuh. Kain dan Habel merupakan saudara kandung. Mereka lahir dari rahim yang sama, dibesarkan dalam keluarga yang sama, tetapi hati mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Kisah Kain dan Habel merupakan salah satu contoh tentang persaingan antar saudara kandung. Kisah diawali dari perlakuan Hawa yang berbeda dalam menamai anak-anaknya. Ketika Hawa melahirkan Kain (Kejadian 4:1-2) Hawa berkata, “Aku telah mendapat (memperoleh) seorang anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan.” Selanjutnya lahirlah Habel, adik Kain.
Teks berhenti disitu saja tanpa diikuti kalimat/ucapan apapun setelah kelahiran Habel. Kain artinya “Kepemilikan”, sedangkan Habel artinya “kesia-kesiaan”, secara tidak langsung membuat Adam dan Hawa memberikan perlakukan yang berbeda terhadap keduanya.
Perseteruan Kain dengan Habel muncul ketika persembahan Kain tidak diindahkan Allah, sementara persembahan Habel memperkenan hati Allah. Karena itulah muncul perasaan iri hati dalam diri Kain. Kekecewaan Kain kepada Allah dilampiaskan kepada adiknya, dan terjadilah peristiwa tragis, yaitu tragedi pertama dan terbesar dalam sejarah peradaban pada zaman itu. Kain membunuh Habel.
Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini, terkait dengan menjadi penjaga bagi anggota keluarga kita atau sesama kita?
Pertanyaan Allah kepada Kain (“Di mana Habel, adikmu itu?”) dan respons Kain terhadap pertanyaan Allah, “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9), bukan karena Tuhan tidak tahu di mana Habel. Tetapi Tuhan sedang menggugah hati Kain.
Pertanyaan Allah dan respons Kain tersebut merupakan panggilan untuk memiliki tugas/tanggung jawab baru dalam keluarga yaitu Menjadi Penjaga. Tugas penjagaan menjadi tanggungjawab setiap anggota keluarga. Kepedulian Allah terhadap Kain dan pembelaan Allah terhadap Habel menjadi gambaran siapakah dan dalam keadaan bagaimana anggota keluarga (sesama) kita yang perlu kita jaga.
Bagaimana menjadi penjaga sesama (keluarga, gereja)?, yaitu dengan:
-Meyakini bahwa itu adalah tugas/kepercayaan dari Tuhan.
-Meningkatkan kepedulian dalam keluarga (orang tua mengajarkan, mendidik sedari kecil)
-Prinsip: Asah, Asih dan Asuh
Asah: Berarti saling mencerdaskan, mengasah pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan agar potensi diri berkembang.
Asih: Berarti saling menyayangi, mengasihi, dan memiliki empati yang tulus terhadap sesama.
Asuh: Berarti saling membimbing, menjaga, dan mengayomi agar tidak ada yang terlantar atau tersesat.
Kejadian 4:1-16 merupakan kisah sedih tentang saudara yang melukai saudaranya sendiri. Tetapi dari kisah ini kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memanggil manusia untuk kembali hidup dalam kasih. “Kita Semua Bersaudara.”
Dalam kehidupan di gereja atau sebagai komunitas gerejawi, Tuhan menghendaki agar kita hidup saling menjaga, saling menguatkan, saling menopang, dan saling mendoakan. Oleh karena itu, marilah kita saling menjadi penjaga iman satu sama lain baik dalam keluarga maupun dalam gereja kita. Amin. Tuhan memberkati.
Oleh: G.I. Dwi Sunami
Dari bahan Bulan Keluarga Sinode GKMI
Recommended Posts
“KETIKA BAIK, TIDAK SELALU BAIK”
July 11, 2026
“MAHLIGAI CINTA YANG PERTAMA”
July 01, 2026
“MENGAPA YESUS TIDAK MENYUKAI PERCERAIAN”
June 27, 2026

