“RAHMAT BAGI SEGALA YANG HIDUP”
— No.: 37/09/XXVII/2026 | Minggu, 13 September 2026| Bahan: Kejadian 8:1-22 —
Ada masa dalam kehidupan ketika badai memang sudah berlalu, tetapi kita belum merasa benar-benar sampai pada tempat yang aman. Konflik mungkin sudah berhenti, tetapi hubungan belum sepenuhnya pulih. Masa sulit telah dilewati, tetapi hati masih membutuhkan waktu untuk sembuh. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban Tuhan belum terlihat seperti yang kita harapkan. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya, “Tuhan, apakah Engkau masih mengingatku?” Dan pertanyaan semacam itulah juga yang mungkin Nuh tanyakan kepada Tuhan.
Setelah air bah yang begitu dahsyat, hujan akhirnya berhenti. Keselamatan telah dialami, tetapi pemulihan belum selesai. Dan di tengah masa menunggu itulah kita menemukan kalimat yang menjadi titik balik kisah ini: “Maka Allah mengingat Nuh…” (Kejadian 8:1). Ketika Alkitab mencatat Allah “mengingat”, ” tidak berarti bahwa sebelumnya Allah melupakan Nuh, melainkan hal ini menunjuk pada perhatian Allah terhadap umat-Nya yang kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Kisah Nuh mengingatkan kita bahwa masa menunggu tidak selalu berarti Tuhan tidak bekerja. Keheningan Tuhan tidak sama dengan ketidakhadiran Tuhan. Sebab itu, ketika pemulihan keluarga membutuhkan waktu, ketika relasi belum sepenuhnya pulih, atau ketika jawaban doa belum seperti yang diharapkan, kita tetap dapat percaya bahwa Allah tidak melupakan kita. Ia hadir dan bekerja, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Pemulihan Nuh pun berlangsung secara bertahap. Ia melepaskan burung gagak dan kemudian burung merpati untuk mengetahui keadaan bumi. Dan pada satu kesempatan, merpati itu kembali membawa sehelai daun zaitun yang segar. Daun itu kecil, tetapi menjadi tanda bahwa kehidupan sedang kembali. Sering kali kita juga terlalu menunggu perubahan besar sehingga tidak menyadari tanda-tanda kecil dari rahmat Tuhan. Jangan pernah remehkan “daun zaitun” yang Tuhan hadirkan. Tanda kecil dari kehidupan tetap merupakan tanda bahwa Tuhan sedang bekerja.
Setelah keluar dari bahtera, hal pertama yang dilakukan Nuh adalah mendirikan mezbah bagi Tuhan. Ia menyadari bahwa kehidupannya adalah pemberian Allah. Namun kemudian kita menemukan sebuah kenyataan penting: kecenderungan hati manusia untuk berbuat jahat masih ada (ayat 21). Menariknya, Allah mengetahui keberdosaan manusia, tetapi tetap berkomitmen untuk memelihara kehidupan. Dan inilah rahmat Tuhan itu.
Rahmat bukan berarti Allah menganggap dosa tidak serius, tetapi rahmat berarti bahwa dosa manusia tidak membuat Allah menyerah terhadap ciptaan-Nya. Sebab, di dalam Kristus, melalui salib dan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan dosa dan kematian serta membuka jalan menuju kehidupan baru. Dan sebagai orang yang hidup karena rahmat Kristus itu, kita pun dipanggil untuk membagikan rahmat itu dan ikut memelihara kehidupan. Kita tidak harus selalu melakukan sesuatu yang besar. Mungkin kita hanya menjadi “daun zaitun” bagi seseorang melalui sebuah perkataan yang menguatkan, sebuah telinga yang mau mendengarkan, sebuah permintaan maaf, sebuah pengampunan, atau mungkin sebuah kesempatan kedua.
Kiranya melalui kehidupan kita, keluarga kita, pelayanan kita, dan gereja kita, orang lain dapat melihat bahwa di tengah dunia yang terluka, kehidupan masih dapat dipelihara, hubungan masih dapat dipulihkan, dan damai masih dapat diusahakan. Sebab Allah tidak hanya memberikan rahmat bagi kita. Ia memanggil kita untuk menghadirkan rahmat bagi segala yang hidup.
Oleh: Pdm. Nicholas Evan Setiawan
Recommended Posts
“KETIKA KEJAHATAN MEMENUHI BUMI”
September 05, 2026
“BERSIH DAN JUJUR”
August 29, 2026
“PEMISAH MANUSIA DAN ALLAH”
August 22, 2026

