“MENJADI AHLI WARIS PERJANJIAN KEKAL”

— No.: 18/05/XXVII/2026 | Minggu, 03 Mei 2026 | Bahan: Kejadian 17:1-27 —

Kisah perjanjian Allah dengan Abraham adalah sebuah perjanjian kekal antara Allah dengan Abraham beserta keturunannya. Perjanjian ini menuntut respons yang sungguh dan serius dari umat pilihan-Nya. Namun kenyataannya umat justru tidak mampu merespons sebagaimana yang Allah maksudkan! Dalam keadaan demikian apakah perjanjian ini batal dan gagal? Tidak! Justru dalam keadaan seperti ini Allah di dalam Yesus Kristus menunjukkan belas kasihan ketika Yesus memenuhi semua tuntutan perjanjian ini, sehingga hari ini dan selamanya setiap generasi yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan hidup sebagai anak-anak Allah.

Allah yang Mahakuasa memperbarui perjanjian-Nya dengan Abram, dengan memberikan nama-nama baru, serta menjanjikan keturunan, tanah, dan persekutuan. Sebagai tanda dari perjanjian itu, Allah menetapkan sunat. Dengan bersunat, seseorang dimeteraikan sebagai bagian dari umat Allah, mewarisi janji-janji Allah, dan harus hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

Janji-janji tersebut telah digenapi secara parsial melalui orang Israel, pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir dan pengangkatan mereka sebagai umat Allah di Gunung Sinai, dan pendudukan Kanaan sebagai Tanah Terjanji. Tetapi secara penuh, janji-janji tersebut digenapi dalam Yesus Kristus, keturunan Abraham par excellence (Galatia 3:16, 19); dengan kesetiaan-Nya kepada Allah (yang memuncak dalam sengsara dan kematian-Nya di kayu salib), Kristus menebus kegagalan Israel dan memperluas keturunan Abraham hingga meliputi segala bangsa di muka bumi (lihat Galatia 3:29).

Yesus Kristus, mendasari pemuridan injili kepada kaum muda. Kita mengundang kaum muda untuk menjadi “ahli-ahli waris perjanjian yang kekal.” Melalui iman dalam Kristus, mereka akan dikaruniai Roh Kudus dan dihimpunkan sebagai Keluarga Allah. Sebagai ahli-ahli waris perjanjian yang kekal, mereka dimerdekakan dari belenggu dosa, kuasa jahat, dan kebinasaan. Dalam keluarga Allah, mereka menikmati kesetaraan dan persaudaraan yang sejati.

Untuk memberitakan Injil kepada kaum muda, kita perlu melibatkan kaum muda Kristen. Kita perlu memberdayakan mereka untuk menjangkau sesama kaum muda. Selanjutnya kita perlu melatih kaum muda Kristen untuk menjadi pembangun-pembangun masa depan Gereja dan masyarakat. Amin.

Oleh: Pdt. Eddy SS

Sumber: Rancangan Khotbah Bulan Misi Sinode GKMI Tahun 2026

share

Recommended Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *